Menu Utama
Home
Profil
Berita
Hubungi Kami
Buku Tamu
Links
Gallery Foto
Lowongan Kerja
Statistics
Visitors: 301382
Chat with crew TTV

             Div.Teknik

             Div.IT    

             Div.Transmiter

             Div.News

             Div.Adm

             Div.Program

Login Form





Lost Password?
Home
Tradisi Potong Rambut Dan Naik Ayunan Bayi Suku Tidung PDF Print E-mail
Written by Iqra Azza   
Sunday, 23 March 2008

Tahukah anda tradisi unik suku Tidung yakni potong rambut dan naik ayun bayi? Tradisi ini ternyata sudah dilakukan turun temurun sejak ratusan tahun. Anda penasaran seperti apa tradisi kuno yang masih bertahan ini?

Perayaan Maulid Nabi di masjid Quddusussalam Mamburungan Tarakan Timur, kali ini sangat berbeda.

Yah, tak lain karena perayaan Maulidil Berjanji Natsro kali ini, bersamaan dengan digelarnya tradisi unik potong rambut dan naik ayun bayi suku Tidung. Tercatat, 16 bayi mengikuti ritual ini.

Beragam perlengkapan pun telah disiapkan untuk 2 prosesi tradisi tersebut. Antara lain, nasi rasul berwarna kuning, sri pinang yang berisikan beras sebagai lambang kemakmuran, kelapa lambang keuletan, dan pisang lambang kesuburan.

Nah…, untuk pelengkapan yang dua hal yang tak boleh terlewatkan adalah gunting yang telah direndam air kelapa muda. Dan tentunya ayunan bayi.

Sebelum prosesi mulai, terlebih dahulu 14 ulama membacakan Berjanji Natsro. Setelah itu, baru satu persatu bayi digunting rambutnya sambil berjalan keliling minimal 3 kali, dan maksimal 7 kali.

Setelah prosesi potong rambut selesai, kemudian dilanjutkan dengan prosesi naik ayunan. Prosesi ini hanya boleh dilakukan oleh 7 perempuan yang telah dituakan di Suku Tidung. Tak hanya itu, ayunan bayi pun juga harus dilengkapi dengan 7 macam kain.

Bagi suku Tidung, tradisi potong rambut dan naik ayun adalah ritual yang tak boleh ditinggalkan. Agar anak mereka kelak mendapatkan berkah. Sehingga tak heran, jika tradisi kuno tersebut terus mengakar hingga kini. (Satria Romadhoni & Ibramsyah)

 
< Prev   Next >