Menu Utama
Home
Profil
Berita
Hubungi Kami
Buku Tamu
Links
Gallery Foto
Lowongan Kerja
Statistics
Visitors: 301234
Login Form





Lost Password?
Home arrow Profil arrow Crew/karyawan arrow Heri Suprapto
Heri Suprapto PDF Print E-mail
Written by @lfath   
Friday, 27 July 2007

  

 Image Nama
 :
Heri Suprapto
 Zodiak
 : Pisces
 Devisi
 : Teknik & On Air
 Email
 :  This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
 Alamat
 :  Jln. Gajah Mada RT/RW 02, Karanganyar Pantai, Tarakan Barat, Tarakan.
 URL
 :  -
 Motto
 :  Sepiro gedene sangsoro, yen tinopo amung coba.Ngalah, ngalih, ngamuk.  


Heru!, itulah nama bekennya, yang slalu dia sebut saat berkenalan dengan siapapun. Entahlah, mungkin biar terlihat lebih keren, ato sengaja mengaburkannya (buron kaleeee!!). Padahal di KTPnya jelas-jelas tertulis HERI SUPRAPTO. Seharusnya, menurut adat suku jawa mengganti nama harus dilakukan ritual tertentu, minimal dengan membuat bubur merah (dalam bahasa jawa disebut jenang abang). Tapi, temen-temen kantor terbiasa memanggilnya “Prapto”


Heru kecil terlahir pada hari Minggu malam tanggal 6 Maret 1983 (mang kmu saat itu langsung bisa liat kalender?...), di sebuah perkampungan pinggir hutan di kecamatan Kedunggalar. Tapi, Heru tidak pernah berteman dengan orang hutan, apalagi berkerabat. Mirippun tidak, meski sama-sama kelihatan menakutkan.(wa ka ka ka.. ngecanda Her!)


Bayi mungil tumbuh dalam dekapan suasana alam pedesaan, hingga beranjak usia sekokah TK. Namun karna tak bisa lepas dari “kran” minuman favoritnya. Diapun tak mau sekolah. Berkat rayuan sang ibu, dengan janji minuman kesayangannya tak akan di berikan pada yg lain, Heru pun rela melepas “kran” itu demi belajar bernyanyi di TK Dharma Wanita Wonorejo. Heru smakin lupa dengan “kran” minumannya, karna dia merasa lebih hebat. Yach, Heru kecil tlah bisa bernyanyi “atu atu.. aku tayang ibu.. uwa uwa.. juga tayang ayah……."


Merasa tak puas bisa bernyanyi dan mengenal huruf serta angka, dia pun nekat melupakan “kran” itu. Yach, dia kini bangga dengan seragam merah putihnya, yang tertulis SDN I Wonorejo. Mungkin karna tiap senin harus upacara, Heru hati kecil Heru mulai terbayang upacara 17an yang ia lihat di TV. Ternyata diam-diam Heru mengagumi bapak-bapak serta om-om yg berseragam doreng. Hemmm… dalam hatinya selalu bergumam…Keyennnn… Maka jangan kaget, kalo Heru setiap upacara hari senin dia terlihat paling disiplin, sambil senyaum-senyum membayangkan dirinya tlah menjadi anggota TNI yang berseragam doreng itu. (Ciee…. Suit suittt….)


Keinginan untuk berseragam doreng itupun akhirnya mendorong dia untuk terus sekolah. Lulus dari SD, melanjutkan ke SMPN 3 Widodaren. Padahal jarak rumah dan SMP itu cukup jauh, 8 km. Dengan sepeda pancal “poligon” setiap hari dia harus mancal 16km di jalan berlumpur dan kadang berbatu. Yach, demi sragam doreng itu. Untungnya, sekolah itu di pinggir hutan, jadi udaranya masih cukup segar.


Mungkin karna kelelahan “mancal”, sering kali Heru terlelap saat pelajaran. Semangat dan cita-citanya berbaju doreng sering kali tak mampu menahan rasa kantuk itu. Tentu saja banyak materi terlewat. Untung, dia dinyatakan LULUS. Namun nilainya tak sanggup mengantar dia di sekolah favorit di kabupatennya. Ahirnya dia ihlas bersekolah di SMA KP Kedunggalar.


Tanda-tanda perjuangannya smakin berat mulai tampak. Godaan gadis cantik bernama Eny yang masih duduk di kelas 3 SMP membuat Heru jatuh terkapar. Gedubrakkk!!!.. (Ciee… cinta pertaman ni yee…cuit cuitt….) Tentu, hari demi hari tak lagi seperti dulu.. smangat berbaju doreng tlah smakin padam. Smangat itu kini berubah, Dibenak Heru saat itu hanya ada Eny dan Eny… Enam bulan berlalu, Eny lulus SMP dan ikut merantau keluarganya ke Ibu Kota Jakarta. Heru hanya bisa pasrah dengan takdir itu. Hari demi hari dilalui dengan hampa. Lambat laun Eny cantik pun melupakan Heru, Dia telah berubah menjadi gadis metro, tentu risih menjalin kasih dengan Heru yang masih dalam dekapan hutan. (Hik .. hiks… aq jadi ikut sedih Her… cabar yaa….)


Yes!!! Yes!!! Yes!!! .. Itulah teriakan Herus saat tau bahwa dia dinyatakan lulus. Kesedihan pun terkikis. Tiba-tiba dia teringat cita-cita masa kecilnya yang sempat pudar. Semangatnya pun kembali berkobar. Berbagai persiapanpun di lakukan. Setiap sore lari agar badan kelihatan “kentheng”. Tak ketinggalan, diapun ikut latihan pencak silat yg berlampang bunga itu.


Hatinya berbunga bunga saat pendaftaran dibuka. Berbagai kelengkapan administrasi di lengapi. Dan ahirnya ikut tes. Sampai ahirnya pada tes “pantukir” dia harus menyerah. (Pake bendaera putih ga?..hiks.. hiks…. Ikut cedih lagi Her). Hatinya hancur berkeping-keping. Cita-cita yang ia perjuangkan dari masa kecilnya kandas. Hari demi hari ia lalui tanpa makna. Hoby pun berubah, keadaan menyeret-nyeretnya menjadi seorang “drinker” dan ahli “hisap”.


Ajakan teman untuk kerja ke Ibukota Jakarta ahirnya memberi semangat baru. Mungkin dia teringat Eny. Yach, Eny yang dulu ia cintai, mungkin ia membayangkan bisa bertemu dan merajut cinta kembali. 4 bulan bekerja di Jakarta ia tak dapat kabar secuilpun tentang Eny. Ahirnya ia pilih pulang kembali. Menikmati hidup dan kembali menjadi drinker sejati.


Kabar peluang kerja sebagai operator TV Lokal yang sangat jauh dari desanya ternyata menggugah semangat hidupnya. Berbagai persyaratan ia siapkan. Maret 2007 Dengat semangat dan tekat yang bulat ia berangkat. Alhamdulillah, itulah kata yang keluar saat ia dinyatakan diterima sebagai karyawan TTV.


Mulailah ia bekerja dan berkenalan dengan satu persatu karyawan. Giliran berkenalan dengan presenter Lintas Kaltara, Deg!!!.. hati dan seluruh darah seakan-akan beku, jantung berhenti berdenyut. Matapun tak mampu berkedip, angannya melayang jauh, teringat seseorang yang pernah berbagi "rasa" dan mewarnai hidupnya…………………………….


Last Updated ( Tuesday, 24 June 2008 )
 
< Prev   Next >